Pesona Muda
Menjadi generasi muda adalah suatu karunia dan juga tuntutan secara bersamaan. Karunia karena generasi muda adalah generasi dengan jiwa yang penuh semangat, pemikiran yang luas, dan berisi banyak kreativitas. Menjadi generasi muda adalah suatu kebanggaan, dimana tonggak kebangkitan bangsa berada ditangan kita. Muda memberikan kita kesempatan untuk berkarya, menyalurkan segala potensi yang ada selama proses pencarian jati diri, karna muda adalah kita. Pemuda adalah jiwa bangsa, bangsa yang hebat adalah bangsa yang didalamnya terdapat barisan para pemuda yang senantiasa memberikan inovasi dan ide-ide terbarukan, jiwa-jiwa dengan pemikiran luar biasa ini sebenarnya telah bersedia dan siap untuk diberdayagunakan demi kemajuan bangsa. Pendidikan yang kini bukanlah hal yang sulit didapatkan, menjadi prasarana utama dalam mencetak insan-insan terbaik untuk masa depan.
Hari ini, ketika kita berbicara revolusi industri 4.0, Jepang, Tiongkok, Amerika, dan India sedang berpacu menyiapkan era society 5.0. Semua berjalan begitu cepat. Ide dan kreativitas telah mengalahkan modal uang. Sekarang bergeser menjadi era Artifical Inteligent (kecerdasan buatan). Apapun bentuk komoditas kehidupan, semua serba digital. Lalu siapa yang akan sanggup menyambut tonggak estafet ini? Siapa yang sanggup berlari, berpacu dan berkompetisi melahirkan ide kreativitas saat ini? Jawabannya adalah para pemuda Indonesia. Karena merekalah yang mempunyai de facto of power terhadap kondisi hari ini. Hampir semua perubahan besar yang terjadi pada tatanan dunia ini, tak lepas dari campur tangan pemuda-pemuda hebat.
Soekarno menggagas sumpah pemuda ketika berusia 27 tahun. Napoleon Bonaparte menaklukan hampir seluruh Eropa pada usia 41 tahun. Thoriq bin Ziyad menaklukan Andalusia ketika berusia 18 tahun dan Sholahuddin Al-Ayyubi membebaskan Palestina ketika berusia 17 tahun. Jendral Sudirman menjadi panglima besar bangsa Indonesia dan berhasil memimpin pasukan pejuang melawan agresi Belanda ketika berumur 38 tahun. Dan Bill Gates berhasil merajai dunia software dunia pada usia 42 tahun. Artinya, muda dalam arti di sini tidak saja dalam usia (18-45 tahun) semata, melainkan usia muda yang brilian, penuh dedikasi, motivasi, dan tentunya sebuah mimpi besar dalam menghasilkan sebuah karya besar untuk masyarakat banyak.
Kita tentu tak akan pernah lupa dengan sosok yang sangat jenius yakni BJ. Habibie Presiden Ke 3 RI yang begitu brilian dan cerdas. Pria yang di sapaan akrab eyang habibie itu dapat menyelesaikan gelar doktoral dan profesor pada usia 26 tahun dan juga beliau merupakan seorang doktor termuda di jerman pada zamannya. BJ. Habibie juga yang membuat grand design ide batam hari ini menjadi metropolis bertaraf dunia. Bayangkan, Batam hari ini digagas oleh BJ. Habibie sejak kurang lebih 50 tahun silam.
Artinya, kalau berbicara peran pemuda atau korelasi usia muda dengan sebuah prestasi dan karya nyata, usia muda lebih memiliki potensi, semangat, dedikasi, motivasi untuk berbuat yang terbaik. Karena kepuasan batin seorang pemuda adalah bagaimana dia mewujudkan sebuah mimpi yang visioner menjadi kenyataan.
Untuk itu, sudah saatnya pada era milenial atau era generasi Z ini, para pelajar, masyarakat, dan para santri menjadi pelopor perubahan dan mengawal kemajuan bangsa. Saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren juga mampu mencetak generasi bangsa yang handal dan tidak kalah dengan lulusan lembaga formal. Untuk merespon tantangan zaman tersebut, pesantren memiliki daya dorong untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk dalam sektor kemandirian ekonomi. Pimpinan pesantren (kiyai/ustadz) membekali jiwa kemandirian kepada para santri-santrinya agar mereka mampu menciptakan sebuah ide-ide kewirausahaan demi mencapai perekonomian yang lebih baik. Pesantren memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mengelola sebuah usaha yang nantinya keuntungannya dapat digunakan untuk mendukung biaya pendidikan pesantren. Pemuda dalam hal ini pelajar maupun dari kalangan santri, sejatinya adalah mereka yang memiliki semangat juang dalam mewujudkan perubahan, dan juga sanggup mengawal perubahan. Jiwa-jiwa yang kritis serta pemikiran-pemikiran yang solutif dan inovatif juga dapat diasah seiiring dengan proses mencari ilmu. Pelajar dan santri adalah cerminan masyarakat di masa mendatang. Jika pelajar dan santri selalu aktif dan tampil memberikan solusi-solusi terhadap permasalahan, baik itu dengan pengembangan IPTEK maupun kepekaan sosial, maka seperti itulah gambaran pemimpin di masa yang akan datang.
*Tulisan ini diambil dari berbagai sumber artikel dan disatukan.
Komentar
Posting Komentar